Setiap kali usia kita bertambah, sebenarnya jatah hidup kita di dunia semakin berkurang. Bertambahnya tahun bukan hanya tentang semakin banyak pengalaman yang telah kita lalui, tetapi juga berarti semakin dekat perjalanan kita menuju akhir kehidupan.
Kita sering menghitung berapa tahun usia yang telah bertambah. Namun, pernahkah kita menghitung berapa banyak waktu yang sebenarnya masih tersisa?
Tidak seorang pun mengetahui jawabannya.
Ada yang Allah Ta’ala wafatkan ketika masih muda, ada yang diberi kesempatan hidup hingga usia senja. Karena itu, bertambahnya usia seharusnya tidak hanya menjadi alasan untuk merayakan perjalanan hidup, tetapi juga menjadi pengingat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah dunia.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memberikan sebuah nasihat yang sangat dalam tentang perjalanan usia manusia:
“Setiap tahun yang berlalu bagi kalian, berarti setahun lebih dekat menuju kuburan, dan setahun lebih jauh dari istana-istana (kenikmatan dunia).”
(Adh-Dhiyā’ al-Lāmi‘, hlm. 703)
Nasihat ini mengingatkan kita tentang sebuah kenyataan yang sering terlupakan: waktu yang telah berlalu tidak akan kembali.
Satu tahun yang bertambah dalam catatan usia berarti satu tahun telah berkurang dari jatah kehidupan kita di dunia.
Karena itu, bertambahnya umur semestinya menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi. Bukan hanya bertanya, “Berapa usia saya sekarang?”, tetapi juga:
“Apa yang telah saya persiapkan dari usia yang sudah Allah berikan?”
Manusia dapat membuat banyak rencana tentang masa depan.
Kita merencanakan pendidikan, pekerjaan, keluarga, usaha, rumah, perjalanan, hingga berbagai cita-cita yang ingin diwujudkan. Namun, ada satu perkara yang waktunya tidak berada dalam pengetahuan kita: kapan kehidupan ini akan berakhir.
Kita tidak pernah mengetahui apakah Allah Ta’ala akan mewafatkan kita ketika masih muda atau memberi kita umur hingga masa tua.
Allah Ta’ala berfirman:
“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
(QS. An-Nahl: 70)
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia berada dalam kekuasaan Allah Ta’ala. Ada manusia yang diwafatkan lebih dahulu, sementara sebagian lainnya diberikan umur panjang hingga mencapai usia yang sangat lemah.
Kita mungkin berharap masih memiliki waktu bertahun-tahun ke depan.
Namun, harapan tersebut bukanlah jaminan.
Usia muda tidak menjamin seseorang masih memiliki perjalanan hidup yang panjang. Sebaliknya, seseorang yang telah lanjut usia pun tidak mengetahui berapa lama lagi waktunya di dunia.
Karena itulah, jangan sampai kita merasa masih mempunyai banyak waktu sehingga terus menunda untuk memperbaiki diri.
Ketika satu tahun berlalu, biasanya kita mengatakan bahwa usia telah bertambah satu tahun.
Secara angka memang demikian.
Namun dari sisi perjalanan kehidupan, waktu yang tersedia justru semakin berkurang.
Jika seseorang telah menjalani satu tahun kehidupannya, berarti satu tahun dari jatah hidupnya telah digunakan dan tidak mungkin diulang kembali.
Inilah cara pandang yang dapat membuat kita lebih menghargai waktu.
Bukan untuk membuat kita takut menjalani kehidupan, tetapi agar kita tidak terlena dengan dunia dan merasa perjalanan ini akan berlangsung selamanya.
Bertambahnya usia berarti semakin berkurangnya waktu yang tersedia untuk menjalani kehidupan di dunia. Karena itu, setiap pertambahan umur seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi diri dan menggunakan sisa waktu dengan lebih baik.
Ada masa yang telah berlalu dan tidak mungkin kembali.
Ada pula masa depan yang belum tentu kita jumpai.
Yang benar-benar kita miliki adalah kesempatan yang Allah berikan kepada kita saat ini.
Maka pertanyaannya bukan hanya tentang berapa lama kita telah hidup, tetapi bagaimana kita menggunakan umur yang masih Allah berikan.
Setiap pergantian tahun dalam kehidupan dapat menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat perjalanan yang telah dilalui.
Apa yang sudah kita lakukan?
Apa yang masih perlu diperbaiki?
Apa yang selama ini terus kita tunda?
Dan bagaimana kita ingin menggunakan sisa usia yang Allah Ta’ala berikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu kita menyadari bahwa umur merupakan kesempatan yang sangat berharga.
Tidak seorang pun mengetahui berapa banyak jatah hidupnya yang masih tersisa.
Bisa jadi masih puluhan tahun.
Bisa jadi beberapa tahun.
Bisa jadi jauh lebih singkat daripada yang kita bayangkan.
Karena itu, nasihat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah patut menjadi renungan: setiap tahun yang berlalu membawa manusia semakin dekat kepada kubur dan semakin jauh dari kenikmatan dunia.
Dunia yang kita tempati hari ini bukan tempat tinggal untuk selamanya.
Semua yang kita miliki dan nikmati memiliki batas waktu.
Begitu pula dengan umur kita.
Bertambah usia semakin berkurang jatah hidup yang kita miliki di dunia.
Setiap tahun yang berlalu tidak hanya menambah angka pada usia, tetapi juga membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan kehidupan.
Kita tidak pernah mengetahui apakah Allah Ta’ala akan mewafatkan kita ketika masih muda atau memberikan umur hingga masa tua. Allah-lah Yang Maha Mengetahui perjalanan kehidupan setiap hamba-Nya.
Karena itu, selama masih diberikan kesempatan hidup, jangan biarkan waktu berlalu begitu saja.
Gunakan usia yang masih tersisa untuk terus memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal sebelum tiba waktunya kembali kepada Allah Ta’ala.
Sebab yang perlu kita renungkan bukan hanya berapa tahun usia kita telah bertambah, tetapi seberapa baik kita menggunakan jatah hidup yang semakin berkurang.
Ya. Setiap waktu yang telah kita jalani merupakan bagian dari kehidupan yang telah berlalu dan tidak dapat kembali. Karena itu, bertambahnya usia juga berarti semakin berkurangnya waktu kehidupan kita di dunia.
Mengingat bahwa kehidupan memiliki batas membantu seseorang untuk tidak terlena dengan dunia dan lebih menghargai waktu yang masih dimiliki.
Tidak. Manusia tidak mengetahui kapan akhir kehidupannya. QS. An-Nahl ayat 70 menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia kemudian mewafatkannya, sementara sebagian manusia diberikan umur hingga mencapai usia yang sangat lemah.
Pertambahan usia dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup, memperbaiki diri, dan menggunakan waktu yang masih tersedia dengan lebih baik.
Nasihat tersebut mengingatkan bahwa setiap tahun yang berlalu membawa manusia semakin dekat kepada kubur dan semakin jauh dari kenikmatan dunia. Karena itu, umur hendaknya tidak disia-siakan.
Mari Renungkan Sisa Usia Kita
Jika hari ini Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan untuk membuka mata, menjalani aktivitas, bertemu keluarga, dan melakukan kebaikan, maka masih ada waktu yang dapat kita manfaatkan.
Jangan menunggu usia tua untuk mulai memperbaiki diri.
Jangan pula merasa bahwa perjalanan hidup masih panjang.
Jadikan setiap pertambahan usia sebagai pengingat bahwa waktu kita di dunia bukan bertambah, melainkan semakin berkurang.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan sisa umur kita sebagai waktu yang penuh kebaikan dan memberi kita kemampuan untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
—–
🏩 Sedekah Barangku – Ulurtangan.com
Barang Tak Terpakai, Jadi Berkah & Bernilai
💽 Youtube
📱 Info & Konfirmasi:
╰┈➤ 0812.80.700.40
Jangan biarkan barang layak pakai yang sudah tidak digunakan hanya menumpuk di lemari atau gudang hingga kehilangan manfaatnya. Melalui Sedekah Barangku, setiap donasi dikelola secara amanah, transparan, dan profesional untuk mendukung berbagai program sosial dan kemanusiaan, sehingga dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi mereka yang membutuhkan.