
Ada kebahagiaan yang tidak selalu datang dari apa yang kita miliki. Terkadang, kebahagiaan justru hadir ketika tenaga, waktu, dan kemampuan kita digunakan untuk menolong orang lain.
Prinsip semakin banyak menolong, semakin bahagia tercermin dalam kisah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Beliau dikenal memiliki kesungguhan dalam membantu memenuhi kebutuhan manusia. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa semangat tersebut berangkat dari keyakinan bahwa ketika seseorang membantu orang lain, Allah Ta’ala akan memberikan pertolongan kepadanya.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
Artinya:
“Dahulu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah selalu berusaha dengan optimal untuk membantu kebutuhan manusia. Karena beliau tahu bahwa setiap kali beliau menolong orang lain pasti Allah Ta’ala akan menolong beliau. Itu sebabnya, engkau dapati para pemalas adalah orang yang paling sering gundah, galau dan bersedih, jarang sekali mereka senang dan bergembira. Beda halnya dengan orang-orang yang memiliki semangat dan kesungguhan dalam sebuah amalan, amalan apa pun itu.”
Sumber: Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbin, jilid 1, hlm. 168.
Nasihat Ibnul Qayyim di atas memberikan pelajaran bahwa kehidupan yang dipenuhi aktivitas bermanfaat memiliki nilai yang berbeda dibandingkan kehidupan yang dibiarkan berlalu dalam kemalasan.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah tidak hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Beliau bersungguh-sungguh membantu kebutuhan manusia karena memahami bahwa kebaikan yang diberikan kepada orang lain tidak akan sia-sia.
Ada hubungan yang indah antara menolong orang lain dan kebahagiaan: ketika seseorang membuat dirinya bermanfaat, hidupnya memiliki lebih banyak ruang untuk kebaikan, aktivitas, dan kesungguhan.
Menolong tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Seseorang dapat menggunakan apa yang dimilikinya sesuai kemampuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Waktu, tenaga, perhatian, kemampuan, ilmu, maupun bantuan sederhana dapat menjadi jalan untuk meringankan kebutuhan orang lain.
Karena itu, jangan selalu menunggu memiliki banyak untuk mulai membantu. Kebaikan dapat dimulai dari sesuatu yang berada dalam jangkauan kita hari ini.
Dalam nasihat tersebut, Ibnul Qayyim juga membandingkan orang yang malas dengan mereka yang memiliki semangat dan kesungguhan dalam beramal.
Kemalasan membuat seseorang kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Sebaliknya, orang yang aktif dan bersungguh-sungguh mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mengisi waktunya dengan aktivitas yang bernilai.
Pesannya bukan sekadar agar kita selalu sibuk, tetapi agar kesibukan tersebut diarahkan kepada sesuatu yang bermanfaat.
Jangan Hanya Memikirkan Apa yang Bisa Kita Dapatkan
Kita sering memikirkan:
“Apa yang akan saya dapatkan?”
Namun, ada pertanyaan lain yang juga penting untuk direnungkan:
“Apa yang bisa saya berikan dan manfaatkan untuk membantu orang lain?”
Perubahan sederhana dalam cara berpikir ini dapat mendorong kita untuk lebih peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar.
Mungkin ada seseorang yang membutuhkan tenaga kita. Ada yang membutuhkan bantuan. Ada yang membutuhkan perhatian. Bahkan mungkin ada barang yang sudah tidak kita gunakan, tetapi masih dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Tidak perlu menunggu menjadi kaya atau memiliki banyak waktu untuk berbuat baik.
Lihatlah apa yang sudah Allah berikan kepada kita dan apa yang dapat digunakan untuk membantu sesama.
Mulailah dari hal sederhana. Ringankan kebutuhan orang lain sesuai kemampuan. Jadikan waktu lebih produktif dan isi kehidupan dengan aktivitas yang memberikan manfaat.
Sebab, sebagaimana pelajaran yang dapat kita ambil dari kesungguhan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, membantu orang lain bukan hanya memberikan manfaat kepada mereka yang dibantu. Kebaikan tersebut juga dapat memberikan pengaruh kepada kehidupan orang yang melakukannya.
Semakin banyak menolong, semakin bahagia mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu ditemukan ketika seseorang hanya mengejar kepentingannya sendiri.
Ibnul Qayyim menggambarkan bagaimana Ibnu Taimiyyah rahimahullah bersungguh-sungguh membantu kebutuhan manusia karena memahami bahwa ketika beliau menolong orang lain, Allah Ta’ala akan memberikan pertolongan kepadanya.
Karena itu, jangan biarkan waktu berlalu hanya dalam kemalasan. Jadilah pribadi yang aktif, bersungguh-sungguh, dan bermanfaat.
Lihat apa yang kita miliki hari ini—waktu, tenaga, kemampuan, perhatian, bahkan barang yang tidak lagi digunakan—kemudian tanyakan kepada diri sendiri:
“Adakah yang bisa saya gunakan untuk membantu orang lain?”
Ada banyak cara untuk menolong sesama. Salah satunya adalah memberikan barang layak pakai yang sudah tidak digunakan agar kembali memberikan manfaat.
Melalui Sedekah Barangku – Ulurtangan.com, barang yang tidak lagi terpakai dapat dititipkan untuk diikhtiarkan menjadi manfaat dan kebaikan.
Barang Tak Terpakai, Diinfakkan Menjadi Berkah dan Bernilai.
Semoga apa yang kita miliki tidak hanya berhenti menjadi milik, tetapi juga menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Nasihat Ibnul Qayyim menunjukkan bahwa orang yang aktif, bersungguh-sungguh, dan membantu kebutuhan orang lain memiliki keadaan yang berbeda dengan mereka yang larut dalam kemalasan. Menolong juga membuat seseorang menggunakan waktu dan kemampuannya untuk sesuatu yang bermanfaat.
Menurut Ibnul Qayyim, Ibnu Taimiyyah rahimahullah bersungguh-sungguh membantu kebutuhan manusia karena beliau mengetahui bahwa setiap kali membantu orang lain, Allah Ta’ala akan memberikan pertolongan kepadanya.
Tidak. Menolong dapat dilakukan sesuai kemampuan dan apa yang kita miliki, seperti tenaga, waktu, perhatian, kemampuan, maupun bentuk bantuan lainnya.
Pelajaran utamanya adalah pentingnya menjadi pribadi yang aktif, bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat, serta tidak membiarkan kehidupan berlalu dalam kemalasan.

Jangan biarkan barang layak pakai yang sudah tidak digunakan hanya menumpuk di lemari atau gudang hingga kehilangan manfaatnya. Melalui Sedekah Barangku, setiap donasi dikelola secara amanah, transparan, dan profesional untuk mendukung berbagai program sosial dan kemanusiaan, sehingga dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi mereka yang membutuhkan.